Senin, 24 November 2014

Si Fasih Lebih Suka Jadi Ma'mum

Hari ini aku seperti biasa ke KBRI London untuk menyampaikan laporan keuangan mingguan dari Wisma Merdeka. Dan seperti biasa juga aku selalu punya janji dengan Alex Grainger, seorang doktor politik alumnus dari LSE pada jam 3.15 sore. Biasanya aku bertemu dengan Alex, begitu dia biasanya disapa di kantin Institute of Education, sebuah perguruan tinggi yang fokusnya pada masalah pendidikan. IoE merupakan saudara kandung dari SOAS karena kedua perguruan tinggi tersebut berada dibawah naungan University of London.

Jam sudah menunjukan pukul 2.30 sore ketika aku selesai mengurus laporan keuangan. Aku langsung menuju ruang kantin KBRI yang berada di basemen untuk makan siang. Seperti biasa Pak Sobirin, sang master chef asal Cirebon yang menyajikan makanan di kantin selalu ramah melayani para pelanggan. 

Aku lihat menunya hari itu Soto Sapi, Mi Goreng dan Calamari. Tak lupa tentunya nasi putih, sambal terasi dan krupuk. Harganya sangat terjangkau karena kalau aku beli disitu selalu dikasih harga stafnya KBRI alias cuma bayar 3.5 pound. Ha ha ha...lumayan lah meskipun bukan staf sungguhan tapi dapat diskon makan siang. 

Selesai makan aku langsung bergegas keluar kantin karena hanya punya waktu sekitar 30 menit untuk jalan kaki ke SOAS. Langkahku aku percepat karena aku tidak ingin Alex menunggu terlalu lama.

Aku susuri jalanan Oxford yang sangat terkenal di London karena di kanan kirinya berdiri outlet pakaian terkenal. Hampir semua orang Indonesia yang datang ke London selalu menyempatkan diri mampir ke Jl. Oxford. 

Aku biasanya juga sempat masuk ke beberapa outlet untuk window shopping dan olahraga namun hari itu aku putuskan untuk menyusuri jalanan untuk pedestrian yang berada di tengah jalan agar bisa cepat sampai di kampus. Jalanan pedestrian yang berada di tengah Jalan Oxford membelah jalanan menjadi dua arah. Bisa dibayangkan betapa macetnya ruas jalan ini di jam-jam sibuk karena satu jalur cuma muat untuk satu bis plus ruang sempit untuk sepeda. Jadi aku memutuskan untuk jalan kaki saja daripada naik bis namun harus terjebak macet. Belum lagi rambu-rambu lalu lintas yang sangat banyak sehingga menghambat laju bis kota London yang semuanya berwarna merah.


Jam sudah menunjukan pukul 3.20 ketika aku sampai di kantin IoE. Aku langsung masuk melalui pintu otomatis dan 'membuang mata' ke segala penjuru ruangan.

Alamak...berarti Alex hari ini tidak datang ke IoE!! gumamku dalam hati sembari melihat muka-muka bule yang tidak aku kenal semuanya.
Aku putuskan untuk menelepon Alex namun nomornya tidak aktif. Aku berfikir mungkin dia sedang di tempat favoritnya, British Library. 

Setelah beberapa kali menelepon tidak nyambung, aku memutuskan untuk ke tempat favoritku, perpustakaan SOAS. Namun aku membelokan langkahku menuju ke lantai basemen untuk mampir di mushala shalat ashar. 

Ruangan mushala tidak terlalu besar, berukuran sekitar 4 x 6 meter. Setiap kampus di Inggris memang menyediakan ruang untuk beribadah. Seringkali mahasiswa Muslim meminta untuk dipisahkan tempat ibadahnya dengan mahasiswa penganut agama lainnya. Jadi untuk mahasiswa Kristen, Hindu, Budha dan agama-agama lain biasanya punya tempat ibadah bersama.

Setelah mengambil wudhu dan masuk ke ruang mushala, ada seorang mahasiswa yang bertanya kepadaku.

Are you going to pray Ashar brother? 
Ya...jawabku singkat sambil menatap mukanya. Dari karakter wajahnya si mahasiswa ini sangat mungkin dari Timur Tengah atau Afrika Utara seperti Mesir dan Maroko.

Biasanya jika ada orang yang bertanya shalat aku selalu berfikir dia pasti mengajak ku untuk shalat berjamaah. Dan aku akan selalu reflek untuk iqamah untuk menghindari dia memaksaku menjadi imam.


Allahuakbar...Allahuakbar...terdengar di telingaku dua kata tersebut seperti bergaung namun dengan nada suara yang berbeda. Ternyata aku menyadari bahwa si mahasiswa tersebut juga mengumandangkan iqamah. 

Saat itu juga aku pegang pundaknya dan sedikit mendorongnya ke depan agar posisiku ada di belakang. Namun dia tenryata melakukan hal yang sama sembari menyelesaikan iqamahnya. 
Terpaksa aku maju ke depan dan aku dengar suara si mahasiswa tersebut begitu merdu dan sangat fasih.

Hari itu aku terpaksa menjadi imam. Ya, menjadi imam dari seseorang yang aku tidak tahu namanya namun aku sangat tahu bahwa bacaan iqamahnya begitu merdu dan sangat fasih.

Aku berharap hari itu Imam Syafi'i masih hidup untuk menyaksikan seorang warga negara Indonesia yang tidak begitu fasih menjadi imam. Aku ingin Imam Syafi'i menjadi saksi bahwa suatu saat ada seseorang yang fasih namun lebih suka menjadi makmum daripada menjadi imam.
Aku ingin Imam Syafi'i menyadari bahwa ijtihadnya yang mengatakan salah satu keistimewaan shalat berjamaah adalah ketika ada satu orang yang tidak sempurna shalatnya maka akan disempurnakan oleh jamaah yang lain.
Begitu juga aku hari itu......Aku sangat yakin bacaan si makmum tadi pasti akan menyempurnakan shalat Ashar ku di mushalla SOAS University of London.








Minggu, 16 Februari 2014

MESKIPUN MISKIN TIAP HARI MAKAN DI RESTORAN

Aku memutuskan untuk pulang ke Banyuwangi setelah mendapatkan uang 124 ribu hasil kerja selama satu bulan lebih. Entah kenapa perasaanku untuk pulang begitu kuat, namun bukan untuk menjenguk keluarga melainkan hanya ingin pulang saja. 

Sesampainya di kampung, aku minta ijin kepada bapak untuk pinjam motor bututnya karena ingin main ke rumah Imam Baidowi, teman lama SMA ku dulu. Rumahnya lumayan jauh, sekitar sekitar 30 km dari rumah. Aku putuskan untuk berangkat kesana pagi-pagi sekali biar nanti ketika pulang tidak larut malam.

Namun ketika sesampainya di rumah Imam aku tidak berhasil menjumpainya. Katanya orang tuanya Imam bekerja di sebuah restoran di Bali bersama Irul Ihsan yang juga teman SMA ku. 

Wah...kok bisa ya mereka bekerja di restoran? tanyaku penasaran kepada orang tuanya Imam. 
Lalu mereka menerangkan bahwa Imam hanya training selama tiga bulan dan setelah itu harus keluar dari restoran tersebut. Mereka menyarankan agar aku menyusul Imam ke Bali agar nanti ketika dia selesai trainingnya aku bisa masuk menggantikannya. 

Tanpa pikir panjang aku meminta alamat Imam dan ternyata dia tinggal di dekatnya Kuta. Aku simpan rapat-rapat alamatnya Imam dan bergegas minta ijin pulang ke orang tuanya Imam. 

Pak aku akan ke Bali lagi bekerja? itulah kalimat pertama yang aku sampaikan kepada bapak ku ketika aku menginjakkan kakiku di rumah. 

Lha kamu kan baru sehari di rumah, kenapa ke Bali lagi? kata bapak ku terheran-heran yang ketika itu sedang duduk berdua makan malam bersama ibuku.

Aku jelaskan kepada mereka bahwa aku akan bekerja di restoran dengan gaji yang agak besar. Mungkin dengan bekerja disitu aku bisa menabung untuk bisa kuliah. Aku katakan kepada mereka bahwa aku hanya minta doa setiap selesai shalat fardu dan mereka mengijinkan aku untuk ke Bali lagi esok hari.

Malam itu aku berkemas dan merasa sangat senang karena bisa bekerja bersama teman-teman ku sewaktu SMA dulu. Bayanganku sudah menerawang indahnya Pantai Kuta, membayangkan betapa senangnya aku bisa bertemu lagi bersama mereka.

bersambung.....ngantuk banget!!

   

Rabu, 09 Oktober 2013

Cinta Lama Bersemi Kembali

Sudah lama tidak membuka blog. Rencana mau aktif lagi kl sudah menyelesaikan Bab 5 Disertasi...i will come back to you soon!!